It’s Time
Disukai atau tidak, ya suatu saat harus menghadapi realita.
Karena hidup bukan hanya martabak telur atau karpet DDR…
Kenyamanan diri sendiri adalah satu hal
dan kepentingan orang lain adalah hal lain
Yang terkadang lebih penting.
Jadi, begitulah
Berhentilah memikirkan diri sendiri
Sudah waktunya…
Sudah waktunya…
Suatu Malam

Tempat yang bagus, di jalan Palagan jogja. Denmas funkshit yang ngasih tahu tempatnya. Awalnya kukira tempat fancy yang cuma begitulah… rupanya tempat ini memang ciamik. Mulai dari jalan setapak masuk ke restoran, pelayanan yang bagus, sampe menu makanan yang beragam dan tentu saja makanannya yang enak!
Malam itu saya pesen Poulait Sauce Mustard. Fillet ayam bumbu keju mustard dengan sayur dan kentang panggang. Rasanya perancis sekali.
Nama restorannya Sasanti. Googling aja deh :p *pemalas*
Saatnya Kembali
Lama banget dari terakhir kali nulis di blog. Jadi merasa bukan blogger… cuma orang yang punya blog aja gitu.
Penggemar : kenapa kmarin2 gak nulis?
Well.. Bukannya gak punya waktu sih. Alesan aja tuh kalo bilang gak punya waktu. Yang jelas sih gak nyempetin nulis aja gitu. Jujur :D
Okelah.. Demi gak nyia-nyiain domain dan hosting yang berbayar ini, marilah kita menulis kembali!
Sunday Slow Santai
Hari ini, seperti hari Minggu yang biasanya… hanya entah kenapa rasanya lebih santai aja. Hari mingguku dimulai sejak pulang lewat tengah malam habis nonton WBA – Chelsea yang berbuah kekalahan Chelsea dan pundungnya si pacar.
Kemudian tidur, bangun nonton Chievo – Juve. Seri. Damn. Unbeatable sih unbeatable.. Tapi ya jangan trus gak menang2 juga gini. Kapan Conte diganti, kayak AVB gitu? #ahak
Pagi bangun ke pasar Kranggan beli jajan. Hihiy. Habis itu kopdar sama Didut sama Sofyan di Melia… Kumpul2 sampe sore di Dixie.
Kemudian baru tahu kalo di Dixie itu ada pastanya dan bisa pesen di lantai atas! Kupikir cuma bisa makan di lantai bawah aja di Warung Pasta.
Sore tidur karena hujan. Halah tidur kok karena hujan.. Tidur ya karena ngantuk. Bangun2 kelaparan lalu dikasi tahu Funkshit klo ada mbak Dina dan mas Herman di Keiko. Meluncuuuurr…
Btw, baru kali ini aku mau keluar kamar di minggu malam. Biasanya udah males aja minggu malem mo kmana2 karena besoknya Senin dan gak enak bgt klo Senin pagi udah ngantuk dan capek.
Highlight hari ini adalah… Pisau lipat baru! Yay! Merknya : HTC

Begitulah hari minggu yang selow dan santai ini. Have a nice weekdays ahead, everyone!
PS : udah sesibuk itu seharian dan kenapa aku masih juga kangen kamu?
Flipping Coin Is Not Gambling
Lagi-lagi, tentang pilihan. Betapa hidup ini dipenuhi dengan pilihan, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Duh kok kayaknya hidup saya semacam berat gitu ya?
Mengutip kembali dari arsip lama saya, Tentang Pilihan :
Prinsip saya selama ini, tidak ada keputusan yang salah. Yang penting adalah bagaimana cara kita menyikapi konsekuensi yang ditimbulkannya. Kalau kita hanya ingin enaknya saja, ya sampai kapanpun kita tidak akan menemukan pilihan yang benar-benar tepat.
Jadi bayangkan kita sedang berada di antara banyak pilihan.. Lalu setelah dibuat tabel SWOT atau Pro-Con atau apapunlah akhirnya terpilihlah dua pilihan teratas dan terbaik… Yang sayang sekali justru membuat kita bimbang. Pertimbangan panjang tersebut padahal sudah melalui banyak tahap, termasuk daftar sebab akibat dari setiap pilihan. Eh kok ya tetap saja kita tak mampu memilih. Lalu apa yang harus kita lakukan? Saran klisenya adalah “ikuti kata hati”. Sayang sekali si hati ini kalau ditanya suka malu-malu, sehingga gak jarang lagi-lagi si logika yang mengambil alih.
Kemarin, di sebuah pizzeria – salah satu tempat makan favorit saya di Jogja – seorang kawan mengajari saya cara yang bagus untuk mengetahui kata hati : melempar koin. Saya sempat menyanggah, bukankah itu berjudi? Dia tersenyum dan mengatakan bahwa melempar koin bukanlah berjudi, selama pilihan yang dipertaruhkan adalah dua pilihan teratas dan terbaik. Pilihan yang sudah lolos berbagai kriteria.
Okelah kita lempar koinnya. Contohnya kita pakai koin seratus rupiah, ada sisi burung garuda dan cenderawasih. Masing-masing mewakili pilihan – katakanlah pilihan A dan B. Lempar koin… lalu rasakan selama koin melayang ke atas, adakah selewat terlintas pikiran “gambar garuda plis..” atau “jangan gambar cenderawasih plis..” atau pikiran-pikiran serupa itu.
That’s the answer. Sepersekian detik pilihan kita dipertaruhkan pada dua sisi mata uang yang melayang ke udara, lalu dengan spontannya ada salah satu pilihan yang lebih kita pilih – atau lebih tidak ingin kita pilih – muncul begitu saja. Itulah kata hati.
Trus kalau gak muncul yang spontan kaya gitu? Kalau memang perasaan kita netral sama kedua pilihan tapi cuma bingung aja mana yang harus dipilih? Sekali lagi saya kutipkan dari arsip lama saya :
Pilih saja salah satu dari berbagai alternatif jawaban, dan lakukan tanpa menoleh ke belakang. Jangan pernah menyesali pilihan yang kita ambil, maka jalan manapun itu yang kita pilih membawa kebahagiaan tersendiri buat kita.
P. S : dear friend, thanks. that was a nice and warm afternoon conversation.
P. P. S : buat yang nunggu lanjutan #30HariMenulisSuratCinta, maaf surat cintanya saya teruskan ke suatu tempat yang tidak bisa saya sebutkan lokasinya. Mohon maklum. Ihik…




